{"id":3486,"date":"2015-03-16T09:12:55","date_gmt":"2015-03-16T02:12:55","guid":{"rendered":"http:\/\/tanjabbarkab.go.id\/site\/?p=3486"},"modified":"2015-03-16T09:12:55","modified_gmt":"2015-03-16T02:12:55","slug":"resiko-tidak-bersyukur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tanjabbarkab.go.id\/?p=3486","title":{"rendered":"Resiko Tidak Bersyukur"},"content":{"rendered":"<div align=\"center\">Oleh Abd.Mukti,S.Ag<\/div>\n<div><b>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 MENYAKSIKAN<\/b> kedua telapak kaki Rasulullah pecah-pecah akibat terlalu lama melakukan shalat malam, Aisyah bertanya, \u201cKenapa engkau melakukan yang demikian, wahai Rasulullah, padahal Allah SWT sudah mengampuni segala dosamu yang telah lampau dan akan datang?\u201d Beliau menjawab, \u201cTidak pantaskah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur\u201d. (HR.Bukhari dan Muslim).<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Hadis ini cukup populer. Rasulullah SAW (571-632 M) gamblang menegaskan tentang pentingnya bersyukur. Tentu bersyukur merupakan kewajiban bagi kaum beriman.Mari renungkan sejenak nikmat Allah yang selama ini kita terima. Tidak usah seluruhnya. Cukup nikmat buang angin saja. Seorang teman harus menghabiskan uang jutaan rupiah untuk biaya operasi hanya gara-gara tiga hari tidak bisa buang angin.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Itu baru soal buang angin. Padahal sepanjang hidup ini, jutaan aktivitas lain harus kita tunaikan. Semua itu ternyata tidak dipungut harga alias gratis. Sebab itu, Allah SWT hanya memberikan kita dua pilihan. Jika tidak mau bersyukur, bberarti kita kufur. Tidak ada pilihan ketiga. \u201cSungguh Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur\u201d (QS.Al-Insan : 3 ).<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Betapa bodohnya kita apabila lebih memilih kufur ketimbang bersyukur. Pasalnya, Allah SWT menjanjikan bertambahnya nikmat bagi mereka yang bersyukur dan menimpakan laknat bagi mereka enggan bersyukur. Simak beberapa cuplikan kisah berikut.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kaum Nabi Nuh (3993-3043 SM) disapu banjir super dahsyat. \u201cMaka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan menurunkan air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh keatas bahtera yang terbuat dari papan dan paku\u201d (QS.Al-Qamar : 11-13).<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sejarawan memang berbeda pendapat, apakah bencana besar itu melanda seluruh dunia atau hanya terjadi pada wilayah tempat Nabi Nuh diutus. Yang jelas, semua sepakat bahwa banjir mengerikan itu datang akibat kaum Nabi Nuh selalu ingkar kepada Allah. Betapa tidak, lebih kurang 950 tahun Nabi Nuh berdakwah, tetapi pengikutnya hanya tujuh puluh orang dan delapan anggota keluarganya.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kekufuran dan pembangkangan serupa juga dilakukan kaum Ad. Kaum Nabi Hud (2450-2320 SM) ini terkenal memiliki jasmani yang kuat. Berkat karunia Allah, kaum Ad hidup berselimut kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Peradaban mereka juga sangat maju. Tetapi mereka kufur dan angkuh, selalu menolak kebenaran, yang resikonya harus mereka bayar dengan sangat mahal.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Allah SWT meniupkan badai topan diiringi gemuruh suara yang menggelegar. Hanya dalam hitungan hari, riwayat mereka tamat dengan sangat menyedihkan. \u201cAllah menimpakan angin kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari secara terus menerus, maka kamu lihat kaum Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah lapuk\u201d (QS.Al-haqqah : 7).<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Tidak kalah mengerikan lagi adalah azab yang diterima kaum Tsamud. Kaum yang tinggal di dataran Al-Hijir yang terletak diantara Hijaz dan Syam ini hidup dengan segala kemewahan dan kemakmuran sebagai warisan dari Kaum Ad. Kaum Tsamud juga dikenal sebagai arsitektur dan entrepreneur ulung. Awal Juli 2008 lalu, UNESCO mengesahkan Madain Saleh, kota peninggalan mereka di 440 km arah utara Madinah itu, sebagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage Site).<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sungguh sayang, mereka ingkar dan menentang dakwah Nabi Saleh (2150-2080 SM). Mereka bahkan berani membunuh unta betina yang merupakan mukjizat Nabi dan Rasul kelima itu. Hasilnya, mereka dihantam guntur dan gempa hebat. \u201cDan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumah mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sungguh kaum Tsamud itu mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud\u201d (QS.Hud : 67-68).<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Tidak kalah tenar tentu kisah Fir\u2019aun. Fir\u2019aun adalah gelar untuk raja-raja Mesir purbakala. Menurut Alquran, terdapat dua gelar bagi raja Mesir kala itu : Fir\u2019aun dan Malik. Fir\u2019aun adalah gelar untuk raja Mesir zaman Nabi Musa (1527-1407 SM), sementara Malik adalah gelar raja Mesir zaman Nabi Yusuf (1745-1635 SM). Penelitian sejarah membuktikan, Fir\u2019aun yang sangat memusuhi Nabi Musa adalah Minephtah (1232-1224 SM), putra Ramses II. Adapun Ramses II yang memerintah selama 68 tahun pada 1304-1237 SM itu adalah raja yang baik.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Fir\u2019aun Minephtah dianugerahi kekuatan dan kekuasaan luar biasa. Tidak hanya kaya, dia bahkan tidak pernah sakit seumur hidup. Tetapi, jangankan bersyukur, Fir\u2019aun Minephtah malah sangat sombong dan arogan, bahkan mengaku sebagai Tuhan. Tragis, Fir\u2019aun Minephtah dan kroni-kroninya akhirnya dibenamkan Allah di dasar Laut Merah. Setelah ribuan tahun terkubur di laut, muminya ditemukan pada 1898 M oleh Loret di Thebes, di daerah Wadi Al-Muluk (lembah raja-raja). Kini mumi Fir\u2019aun Minephtah diawetkan di museum Mesir.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Jika mengacu isyarat Al-Quran, Allah memang sengaja menyelamatkan jasad Fir\u2019aun Minephtah agar dapat menjadi pelajaran bagi manusia. \u201cMaka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sungguh kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami\u201d (QS.Yunus : 92).<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Tidak kalah dahsyatnya azab Allah SWT juga ditimpakan terhadap Kaum Sodom, yakni kaum Nabi Luth (1950-1870 SM).Hampir keseluruhan kaum ini mengamalkan gaya hidup songsang, yaitu melakukan hubungan kelamin sesama sejenis,lelaki dengan lelaki.Perbuatan ini merupakan sesuatu penyelewengan fitrah yang amat buruk. Nabi Luth telah menyeru mereka untuk menghentikan perbuatan tersebut disamping menyampaikan seruan-seruan Allah, tetapi mereka mengabaikannya dan malah mereka mengingkari kenabiannya.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Atas kekufurannya itu Allah SWT mengutus seorang malaikat mencabut negeri itu dengan ujung sayapnya dan mengangkat ke atas langit, lalu dibalikkan negeri itu; bagian atas menjadi bawah dan bagian bawah menjadi atas, kemudian mereka dihujani dengan batu yang panas secara bertubi-tubi.\u201cMaka ketika datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,\u2013Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.\u201d (QS. Hud: 82-83)<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Allah SWT menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya selain istrinya dengan rahmat Allah SWT, karena mereka menjaga pesan itu, bersyukur atas nikmat Allah dan beribadah kepada-Nya.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Masih banyak kisah-kisah kebinasaan kaum kufur nikmat dan penentang kebenaran yang dituturkan Allah SWT dalam Alquran. Cukuplah beberapa penggalan kisah di atas sebagai bahan renungan. Sebagai kaum beriman, sepatutnya kita terus memanjatkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW, sebagaimana dikutip dalam riwayat Abu Dawud, \u201cWahai Tuhanku, bantulah aku untuk dapat senantiasa mengingatmu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu\u201d.<\/div>\n<div>\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0\u00a0Penulis adalah Pemerhati Kehidupan Beragama<\/div>\n<div><\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<wbr \/>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <a href=\"mailto:abdulmuktiok@yahoo.co.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">abdulmuktiok@yahoo.co.id<\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Abd.Mukti,S.Ag \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 MENYAKSIKAN kedua telapak kaki Rasulullah pecah-pecah akibat terlalu lama melakukan shalat malam, Aisyah bertanya, \u201cKenapa engkau melakukan yang demikian, wahai Rasulullah, padahal Allah SWT sudah mengampuni segala dosamu yang telah lampau dan akan datang?\u201d Beliau menjawab, \u201cTidak pantaskah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur\u201d. (HR.Bukhari dan Muslim). \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Hadis ini cukup populer. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-3486","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tanjabbarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3486","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/tanjabbarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tanjabbarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanjabbarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanjabbarkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3486"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/tanjabbarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3486\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tanjabbarkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3486"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tanjabbarkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3486"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tanjabbarkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3486"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}