Nomor Penting
Agenda
September 2017
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
« Aug    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
Pencarian

 

Topografi

TOPOGRAFI DAN DEMOGRAFI
KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT
a. Topografi
Kabupaten Tanjung Jabung Barat beriklim tropis basah dengan variasi kecil tergantung kelembaban nisbi, dataran tinggi temperatur max 270 C, dataran rendah temperatur 320 , sedangkan curah hujan rata – rata per tahun 241,48 MM dengan curah hujan max / bulan berkisar 100 – 300 MM.
b. Demografi
Penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2010 berjumlah 278.741 jiwa dengan kepadatan 56 jiwa/km2, sedangkan tingkat pertumbuhan penduduk selama kurun waktu 2000-2010 rata – rata 3,03% pertahun, Kabupaten Tanjung Jabung Barat terletak pada posisi strategis, merupakan baris terdepan dan pintu gerbang menuju Jambi. Berhadapan langsung dengan kawasan perkembangan IMS – GT dengan jarak dari kota Kuala Tungkal ke negara Singapura + 90 mil dengan waktu tempuh 3.20 jam.
LUAS DAN PENYEBERANGAN FORMASI GEOLOGI
KAB. TANJUNG JABUNG BARAT
No. Formasi Geologi Tungkal Ulu Merlung Tungkal Ilir Pengabuan Betara Jumlah
1. Alluvial 12.000 28.105 18.737 58.842
2. Undak-undak 938 937 1.875
3. Formasi Palembang
Atas 15.171 15.147 6.022 18.626 11.514 66.480
Tengah 4.214 4.208 368 1.438 703 10.631
Bawah 32.998 32.945 65.943
4. Formasi Telisa 21.580 21.545 43.125
5. Formasi Lahat 2.338 2.334 4.672
6. Granit Kapur 2.815 2.810 5.625
7. Batu Sabak
8. Batu Marmer 18.765 18.735 35.500
Jumlah (Ha) 159.026 158.772 38.778 119.779 74.046 550.398

Sumber : RT/RW Kabupaten Tanjung Jabung Barat

HISTOSOL
Jenis tanah Histosol merupakan tanah yang sangat kaya bahan organik keadaan kedalaman lebih dari 40 cm dari permukaan tanah. Umumnya tanah ini tergenang air dalam waktu lama sedangkan didaerah yang ada drainase atau dikeringkan ketebalan bahan organik akan mengalami penurunan (subsidence).
Bahan organik didalam tanah dibagi 3 macam berdasarkan tingkat kematangan yaitu fibrik, hemik dan saprik. Fibrik merupakan bahan organik yang tingkat kematangannya rendah sampai paling rendah (mentah) dimana bahan aslinya berupa sisa-sisa tumbuhan masih nampak jelas. Hemik mempunyai tingkat kematangan sedang sampai setengah matang, sedangkan sapri tingkat kematangan lanjut.
Dalam tingkat klasifikasi yang lebih rendah (Great Group) dijumpai tanah-tanah Trophemist dan Troposaprist. Penyebaran tanah ini berada pada daerah rawa belakangan dekat sungai, daerah yang dataran yang telah diusahakan sebagai areal perkebunan kelapa dan dibawah vegetasi Mangrove dan Nipah.
ULTISOLS
Jenis ini merupakan tanah mineral yang telah mengalami perkembangan lanjut dimana pencucian intensif terjadi pada lapisan atas (Elluviasi) dan penimbunan dibagian bawah (Illuviasi). Tanah tersebut pada semua iklim (kecuali arid) dengan bentuk wilayah datar hingga berbukit.
Kedalam tanah sedang sampai dalam, tekstur tanah bagian bawah halus, struktural gumpal di horizon B dan dijumpai pula horizon argilik pada kedalaman 125 cm, drainase baik sampai terhambat, permeabilitas lambat sampai sedang dan sangat peka terhadap erosi.
Dalam klasifikasi tanah yang lebih rendah (Great Group) dijumpai tanah-tanah hadludults dan kandiuldults.Penyebaran jenis tanah ini pada daerah bertopograpi berbukit dimana erosi dan kenampakan erosi permukaan cukup jelas.
OXISOLS
Jenis tanah ini penyebarannya pada daerah dengan topografi bergelombang, di Kabupaten Tanjung Jabung Barat terletak di Kecamatan Tungkal Ulu.
KLASIFIKASI TEKSTUR TANAH DI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT
No. Kecamatan Klasifikasi Tekstur dan Luasnya (Ha) Gambut Jumlah
Halus Sedang Kasar
1. Tungkal Ulu 139.749 25.650 165.399
2. Merlung 105.823 105.823
3. Pengabuan 17.955 69.200 87.155
4. Tungkal Ilir 25.590 30.665 56.255
5. Betara 41.580 34.710 76.290
Jumlah 330.697 160.225 491.922
% Kabupaten 67,22 32,78 100,00

Sumber : Bappeda Tanjab Barat

Sistem Lahan
Sistim lahan yang diidentifikasi oleh RePProt tahun 1998 adalah unit-unit lahan yang menunjukan kesamaan dalam kondisi iklim makro, bentuk lahan, tanah, geologi, dan vegetasi alami oleh sebab itu memiliki inplikasi yang sebanding untuk pengembangan pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
SISTEM LAHAN DI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT
Sistim lahan
Tungkal Ulu
Merlung
Tungkal Ilir
Betara
Pengabuan
Jumlah
KJP
194
370
599
1.163
KHY
746
746
15.948
30.498
49.325
97.263
BLI
477
476
438
837
1.354
3.582
KLR
1.415
1.413
2.828
MDW
14.035
26.833
43.408
84.276
GBT
995
1.903
3.078
5.976
SLP
24.792
24.753
1.100
2.103
3.402
56.150
SPK
3.928
3.922
5.546
10.603
17.153
41.152
MBL
87.051
86.912
173.963
SAR
12.229
12.210
263
503
814
26.019
AHK
3.610
3.604
209
400
646
8.469
BGA
1.416
1.413
2.829
SPD
23.361
23.323
46.684
Jumlah
159.025
158.772
38.728
74.050
119.779
550.354

Sumber : Bappeda Tanjab Barat

Klasifikasi Lereng Tanah
Pola Tata Ruang di Kabupaten Tanjung Jabung Barat berdasarkan luas tanah dan kemiringan lereng menurut ketinggiannya dapat dirinci:
No
Kecamatan
Klasifikasi lereng dan luasnya
Jumlah
0-25m
25-500m
>500m
1. Tungkal Ulu
160.529
4.750
165.279
2. Merlung
98.783
7.040
105.823
3. Pengabuan
87.155
87.155
4. Tungkal Ilir
56.255
56.255
5. Betara
76.650
76.650
Jumlah
220.060
259.312
11.790
491.162
% Kabupaten
44,80
52,80
2,40
100

Sumber : Bappeda Tanjab Barat

TINGKAT KELERENGAN TANAH
DI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT
No
Kecamatan
Klasifikasi lereng dan luasnya
Jumlah
0-2%
2-15%
15-40%
>40%
1. Tungkal Ulu
58.780
64.819
23.370
18.430
165.399
2. Merlung
630
74.546
28.537
2.110
105.823
3. Pengabuan
86.735
420
87.155
4. Tungkal Ilir
51.070
4.855
330
56.255
5. Betara
71.480
3.190
1.620
76.290
Jumlah
269.055
147.830
53.857
20.540
491.922
HIDROLOGI
A.
Sungai dan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Sebagian wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat merupakan bagian dari kawasan pantai Timur Sumatera yang ditunjukan dengan ciri-ciri tenggelamnya daratan rendah dibawah permukaan pada zaman Kuarter Tua. Oleh sebab itu daerah ini agak datar dan keadaan tata airnya dikendalikan oleh gradient sungai sehingga drainase terhambat dengan akibat penggenangan yang luas dan bersifat permanen.

Beberapa sungai yang relatif besar di Kabupaten Tanjung Jabung Barat semuanya bermuara ke Selat Berhala yaitu : Sungai Pengabuan, Sungai Tungkal, Sungai Betara, dan beberapa sungai kecil lainya. Sesuai dengan karakteristik wilayah dan letak Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang berbatasan langsung dengan laut, maka masing-masing sungai mempunyai sistem yang khas baik ditinjau dari daerah asal, pola drainase maupun kualitas airnya. Masing-masing sistem sungai tersebut adalah sebagai berikut :

Sistem perairan hulu, terbentuk dari sungai-sungai yang berasal dari daerah perbukitan berlitologi kompleks. Sungai utama pada sistem ini adalah Sungai Pengabuan dan Sungai Tungkal. Berdasarkan sistem sungai tersebut maka di Kabupaten Tanjung Jabung Barat terdapat tiga sitem daerah aliran sungai (DAS) yaitu : DAS Sungai Pengabuan, DAS Sungai Tungkal dan DAS Sungai Betara. Terdapatnya beberapa sistem aliran sungai di daerah ini menyebabkan perbedaan terhadap potensi wilayah terdapat pada DAS. Pada daerah yang dilalui oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berhulu pada daerah perbukitan dan pegunungan mempunyai potensi yang baik bagi pengembangan pertanian, hal ini karena sungai-sungai mengangkut sedimen aluvial yang berasal dari erosi formasi batuan tersier dibagian atas. Sementara daerah yang berbeda pada Daerah Aliran Sungai (DAS) kecil yang berasal dari daerah bergambut dimana kondisi tanah sangat miskin unsur hara akan kurang berpotensi bagi pengembangan pertanian. Penyebaran masing-masing Daerah Aliran Sungai terutama daerah kiri kanan sungai (tanggul sungai).

B.
Air Permukaan Air Tawar
Kondisi air permukaan dan air tanah di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dipengaruhi oleh musim dan fluktuasi pasang surut. Pada saat musim penghujan fluktuasi air tanah dan permukaan akan tinggi sehingga menyebabkan di beberapa tempat terjadi genangan atau banjir sedangkan pada saat kemarau dimana air sungai rendah dan terjadi penyusupan air laut jatuh ke wilayah pedalaman. Jarak jangkauan air laut dapat dilihat pada tabel berikut :
JANGKAUAN PASANG SURUT SETIAP MUSIM DI SEPANJANG SUNGAI DI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT.
Sungai
Jangkauan Pasang Surut
Langsung
Tidak Langsung
Musim Hujan
Musim Kemarau
Musim Hujan
Musim Kemarau
Pengabuan
Sungai Serindit Teluk Nilau
Pelabuhan dagang
Betara
Kuala Betara 27,5 Km dari Muara *
Pematang Lumut

Keterangan : * = Team Survei IPB Bogor (1969-1975)

Dibagian muara sungai dan pesisir keadaan tata airnya sangt tergantung pada pengaruh pasang surut yang terjadi di Selat Berhala Laut Cina Selatan. Frekwensi pasang surut terjadi pada setiap 12 jam dengan amplitudo antara 2-3 meter, bahkan pada saat pasang besar (spring tide) dapat lebih tinggi. Batas jangkauan pasang surut yang langsung maupun yang tidak langsung menyebabkan jangkauan pasang dapat berpindah-pindah sesuai dengan keadaan sungai dan pergantian sungai. Berdasarkan pengaruh pasang surut pada dataran rendah dapat diintensifikasi sebagai darah yang sedikit atau sama sekali tanpa pengaruh pasang surut yakni jalur aliran sungai perential dan tawar, dataran banjir musiman dan daerah belakang.

Pengaruh langsung terhadap fluktuasi pasang surut dan industri air laut dibeberapa sungai di kawasan ini terlihat pada tidak seimbangnya fluktuasi air tanah dan rendahnya kualitas air permukaan dan air tanah. Upaya pemanfaatan air permukaan masih terbatas pada keperluan rumah tangga seperti mandi, mencuci dan untuk peternakan. Sedangkan pemanfaatan air tanah dalam bentuk keperluan air minum dibatasi oleh kendala kualitasnya yang tidak sesuai lagi bagi keperluan air minum, disamping itu biaya pembuatan sumur bor dalam masih relatif mahal. Meskipun demikian untuk kota kecamatan yang berada di wilayah pesisir telah dimanfaatkan air tanah dalam hal ini sebagai alternatif untuk keperluan rumah tangga pada saat musim kemarau seperti Kuala Tungkal.